Senin, 01 Desember 2008

Let The Mod Dancing on Scooters



I don’t wanna be the same as everyone else,
that’s why I’m a Mod, see?"
(Jimmy Michael Cooper / Quadrophenia)


Tentu saja kita tau apa itu skuter, atau jika mengadopsi merk, tentu kita akan menyebut kata vespa atau lambretta. Tapi siapa mereka? Berkaca mata hitam, lagak bak gankster dan berkendara vespa di jalanan?

Mereka disebut MOD. Disebut-sebut sebagai nenek moyang dari berbagai subkultur, seperti skinhead, kaum ini lahir di London Inggris sekitar akhir tahun 1950an dan mencapai puncaknya sekitar awal dan pertengahan 1960an. Awalnya mereka hanyalah sekelompok anak muda yang mempunyai koneksi dekat dengan perusahaan garmen di London. Berasal dari keluarga kelas menengah yang terobsesi dengan fashion seperti Italian suits dan musik modern jazz atau rhythm and blues.

Asal muasal kata MOD itu berasal dari sebutan bagi fans modern jazz, berlawanan dengan komunitas trad yang mengidolakan traditional jazz. Namun seiring jalannya waktu kemudian dan perkembangan kaum ini juga, kapasitas definisi MOD itu sendiri melebar hingga menyentuh elemen-elemen lifestyle, fashion, bahkan musik yang mereka dengar juga mulai masuk ke genre-genre seperti jamaican ska, rocksteady dan musik soul dengan influence band-band seperti The Small Faces, The Who, The Action, dll.

Sebagai sebuah komunitas, setiap malam mereka berkumpul di club malam, tujuannya, mereka ingin memamerkan kepada kaum orang kaya pada saat itu bahwa mereka mampu membeli pakaian mahal dan menunjukkan bahwa kaum menengah seperti mereka juga mampu membeli barang-barang bermerk dan bergaya perlente. Tapi tentu saja mereka membeli pakaian tersebut dengan harga miring lewat kenalan mereka yang bekerja di garmen. Selain itu, alasan mereka memilih skuter sebagai alat transportasi mereka karena harga mobil tidak dapat mereka jangkau dari penghasilan mereka sebagai buruh (rata-rata mereka kaum working class), dan skuter adalah pilihan mereka, hingga menjadi trademark bagi seorang mod untuk berkendara skuter.

Eksisnya sebuah subkultur, tentu saja mempunyai hambatan. Ini juga dirasakan oleh kaum mod. Mereka juga mempunyai rival yang juga berkendara motor yaitu kaum yang disebut dengan rockers, dengan ciri-ciri berjaket kulit dan bermotor besar. Perkelahian jalanan antara mod dan rockers sering terjadi dan rivalitas ini berlangsung cukup lama.

Namun, seiring waktu, memudarnya bekas ban di aspal, hilangnya deru mesin vespa dan Inggris menang piala dunia sepakbola di tahun 1966, MOD mulai menghilang. Aroma baru menyeruak mewangi di kalangan anak-anak muda Inggris. Musik seperti psychedelic rock dan kultur hippie dengan bohemian style-nya mulai meraja diseluruh belahan negeri, yang tentu saja etos kaum hippie bertentangan dengan mod yang menonjolkan energi kebebasan anak muda, berbeda dengan hippie yang cenderung bersifat pasif. Alih-alih scene mod pun kehilangan arah. Banyak dari anggota mod yang keluar dan berganti style, dan juga ini diperparah dengan band-band mod seperti the Faces, mengganti aliran musik mereka dan tidak lagi merepresentasikan diri mereka sebagai seorang Mod.

Dekadensi semangat mod juga berdampak pada kaum mod garis keras atau yang dikenal dengan gang mod. Hard mod atau gang mod ini identik dengan kekerasan dan juga menolak fashion yang banyak digunakan anak-anak mod pada umumnya. Seiring lunturnya mod, mereka mulai merubah diri mereka. Dengan potongan rambut yang lebih pendek namun tetap mempertahankan "seragam"mod mereka dengan kaos Ben Sherman dan Fred Perry serta Levi’s Jeans dikombinasikan dengan aksesoris kaum working class yaitu dengan Braces dan boot Dr. Marteens dan inilah cikal bakal dari kaum SKINHEAD. Penampilan mereka juga banyak mengadopsi dari Jamaican Rude boys. Alasan praktis untuk memotong rambut mereka pada saat itu dikarenakan rambut panjang sangat menyusahkan untuk mendapatkan pekerjaan dan menyulitkan dalam perkelahian jalanan.

Mod Revivalist

Setelah beberapa tahun "mati", di tahun 1970an mod bangkit kembali. Apabila kita membicarakan kebangkitan kembali mod, tak lengkap rasanya pabila kita tak membicarakan The Jam serta Quadrophenia (musik serta film). Tahun 1978, Great British Music Festival, The Jam menggila dengan musik berenergi punk dengan mencampurkan sound dan style mod tahun 1960an, dan banyak orang menganggap momen ini sebagai awal kebangkitan kembali dari mod. Banyak anak muda perlahan namun pasti mulai kembali ke mod. Setelah itu, band-band mod kembali dilirik anak muda London seperti Purple Heart, The Chords dan Back to Zero kembali menjadi pahlawan-pahlawan baru mod pada saat itu.

Di tahun berikutnya, 1979, sebuah film berjudul Quadrophenia yang di sutradarai Franc Roddam yang bercerita tentang romantisme kehidupan anak-anak mod di tahun 1960an berhasil mendongkrak kembali kepopuleran mod. Sejalan dengan itu, soundtrack yang mengisi film tersebut berasal dari legenda mereka, The Who. Sebuah paket lengkap bagi Quadrophenia untuk menjadi sebuah simbol mod revivalist.

Setelah itu, mod berhasil menjadi sebuah subkultur yang dapat bertahan dan menjadi influence bagi banyak band setelahnya. Mod berhasil menyebar ke seluruh dunia, walau hanya eksis di scene-scene underground namun membuktikan pada dunia bahwa mereka tak hanya sebuah produk pasar, tapi dapat merebut hati ana-anak muda di dunia dan menjadi wadah "kegilaan" mereka. Mengkuotasi sebuah kalimat dari artikel yang aku baca, "feeling so brave, you can’t be stopped when you’re young...." (dari berbagai sumber).

Tidak ada komentar: